Hot Todays

Showing posts with label Ekonomi. Show all posts
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts

Monday, October 15

Tarif Listrik Siap ‘Setrum’ Rakyat


Masyarakat perlu bersiap-siap menanggung kenaikan tarif dasar listrik ini yang rencananya akan terus naik hingga akhir tahun.
Pemerintah sepertinya tidak bosan-bosan membebani rakyat. Setelah berencana membatasi konsumsi bahan bakar minyak (BBM), pemerintah sudah berniat menaikkan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 10 persen mulai Mei 2012. Kenaikan tersebut berlaku untuk pelanggan di atas 450 volt amper.
Berdasarkan APBN Perubahan, pemerintah memang akan menaikkan TDL listrik secara bertahap. Alasan pemerintah kenaikan TDL tak berbeda jauh ketika pemerintah berkeinginan menaikkan BBM subsidi yakni beban subsidi semakin berat.
Berdasarkan APBN Perubahan 2012, pemerintah mengalokasikan subsidi listrik sebesar Rp  45 trilyun. Angka ini teRp angkas dari APBN P 2011 yang mencapai Rp 65,6 trilyun. Asumsi perhitungan subsidi didasarkan nilai tukar dolar sebesar Rp 8.800, harga minyak mentah sekitar 90 dolar AS/barel, penjualan listrik sebanyak 173, Twh, susut jaringan 8,5 persen dan tercapainya bauran energi.
Karena itu guna menutupi subsidi listrik yang turun hingga Rp 20 trilyun, pemerintah kemudian berencana menaikkan tarif dasar ‘setrum’ ini. Jika tidak ada kenaikan TDL, beban subsidi akan membengkak sekitar Rp 8,9 trilyun.
Alasan lain dari pemerintah untuk mendukung rencana kenaikan TDL adalah harga TDL di Indonesia masih yang termurah ketimbang negara-negara tetangga.  TDL Indonesia hanya, Rp  632/Kwh, sedangkan Singapura mencapai Rp 1.453/Kwh, Vietnam Rp 1.149/Kwh, Malaysia Rp 829/Kwh, Thailand Rp 782/Kwh.
Untuk mendukung hasrat menaikkan TDL, pemerintah kemudian ‘membayar’ konsorsium perguruan tinggi untuk melakukan kajian. Dari hasil tersebut tiga perguruan tinggi yakni UI, UGM dan UNPAD telah merestui jika pemerintah menaikkan TDL sebesar 10 persen.
Alasannya, kenaikan sebesar itu tidak berpengaruh secara signifikan terhadap daya saing industri, termasuk usaha mikro kecil dan menengah yang meliputi 90 persen dari jumlah industri tidak teRp engaruh kenaikan TDL. Padahal kenaikan TDL tersebut bukan hanya berpengaruh pada industri, tapi juga di tingkat rumah tangga.
Bahkan pemerintah sudah menyiapkan beberapa opsi. Pertama, opsi kenaikan TDL 10 persen bagi semua golongan pelanggan listrik, kecuali golongan pelanggan 450 VA. Kedua, tarif golongan pelanggan 450 VA dan 900 VA tidak naik sampai batas pemakaian listrik 60 kWh per bulan. Setelah pemakaian listrik 60 kWh, maka akan terkena kenaikan tarif listrik. Pemerintah juga mengusulkan kenaikan TDL secara bertahap. Pada Mei-Juli naik 3 persen, Agustus-Oktober kembali naik 3 persen dan November-Desember naik 3 persen.
Tunda, Bukan Tak Naik
Meski kemudian pemerintah dan DPR RI sepakat menunda rencana kenaikan TDL untuk tahun anggaran 2012, bukan berarti tarif setrum batal naik. Sebab, pemerintah bisa sewaktu-waktu menaikan tarif setrum tersebut. Ini tampak dari pernyataan pemerintah yang disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jero Wacik usai rapat kerja dengan DPR.
Menteri yang baru saja ditinggal wakil menterinya itu mengatakan, jika situasi akibat kenaikan bahan bakar minyak (BBM) sudah mereda dan harga minyak mentah Indonesia (ICP) agak melandai, kemungkinan opsi kenaikan TDL kembali dipikirkan. “Kira-kira kalau nanti situasi sudah stabil akan dibahas lagi oleh pemerintah dan DPR,” ungkapnya.
Persoalan kelistrikan di Indonesia, bukan hanya minimnya pasokan listrik, tapi  juga problem biaya produksi listrik kelewat mahal. Penyebabnya adalah masalah inefisiensi dan mahalnya biaya pokok produksi (BPP) listrik. Mahalnya BPP terjadi lantaran pembangkit PLN masih menggunakan BBM. Akibatnya kenaikan harga BBM akan mendongkrak naiknya biaya produksi listrik. Selisih harga jual listrik ke masyarakat itu yang kini dianggap menjadi beban subsidi pemerintah.
Padahal jika pemerintah, termasuk PLN mau kreatif dan berniat serius, maka pembangkit listrik yang selama ini digerakkan BBM bisa diganti dengan gas atau batubara. Dua bahan bakar tersebut harganya jauh lebih murah ketimbang BBM, sehingga BPP listrik akan teRp angkas. Selanjutnya, pemerintah bisa menetapkan TDL lebih murah kepada rakyat.
Jadi meski pemerintah menunda kenaikan TDL, rakyat jangan bernafas lega dulu. Sebab sewaktu-waktu, rakyat harus siap-siap ‘tersengat setrum’ listrik.[] joe lian

9 out of 10 based on 10 ratings. 9 user reviews.

Negeriku Hidup dari Pajak


Pajak dibebankan kepada seluruh rakyat, namun penggunaannya tak jelas.
Indonesia boleh bangga sebagai negara yang mempunyai kekayaan alam cukup besar. Di daratan maupun, potensi sumberdaya alam dari tambang, potensi hasil pertanian dan perikanan laksana ’surga dunia’.  Apalagi posisi Indonesia sangat strategis. Letaknya di antara dua benua dan dua samudera.
Dengan seluruh potensi yang ada itu, Indonesia harusnya menjadi negara yang sangat kaya. Sayangnya kekayaan sumber daya alam itu tak menjadikan Indonesia sebagai negara besar. Sebaliknya bangsa Indonesia menghadapi masalah besar yaitu kemiskinan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlahnya mencapai 18,5 juta rumah tangga miskin (RTM). Kalkulasinya, jika setiap RTM ada empat orang jiwa (bapak, ibu dan dua orang anak), maka total penduduk miskin Indonesia mencapai 74 juta jiwa. Artinya hampir 30 persen penduduk Indonesia berada dalam garis kemiskinan.
Padahal perhitungan angka garis kemiskinan itu berdasarkan pendapatan sekitar Rp 160 ribu/bulan. Bagaimana jika angka garis kemiskinan itu dinaikkan menjadi Rp 300 ribu/bulan? Jawabnya sudah pasti jumlah RTM bakal makin melonjak. Sungguh fakta yang sangat ironis.
Lebih ironisnya lagi, untuk menjalankan pemerintahan, bangsa Indonesia justru mengandalkan anggaran dari pajak. Lihat saja, dalam APBN 2010, pemerintah menargetkan pendapatan negara sebesar Rp 949,7 trilyun naik sebanyak Rp 38,2 trilyun dari usul RAPBN 2010 Rp 911,5 trilyun. Perubahan tersebut lantaran berubahnya asumsi pertumbuhan ekonomi dari 5 persen dalam RAPBN 2010 menjadi 5,5 persen.
Jumlah pendapatan itu berasal dari penerimaan perpajakan sebanyak Rp742,7  trilyun naik Rp 13,6 trilyun dari RAPBN 2010 sebesar Rp 729,2 trilyun. Sedangkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebanyak Rp 205,4 trilyun dan penerimaan dari hibah sebanyak Rp1.506,8 miliar. Artinya hampir 70 persen sumber APBN berasal dari pajak.
Pajak-pajak tersebut berasal dari pajak penghasilan (PPh Non Migas dan PPh Migas), Pajak pertambahan nilai, pajak bumi dan bangunan, BPHTB, pajak lainnya dan cukai. Selain itu juga pajak dari perdagangan internasional yaitu bea masuk dan bea keluar.
Semua Kena Pajak
Konsekuensi dari target APBN yang mengandalkan pajak membuat segala aktifitas akan terkena pajak. Dampaknya membuat ekonomi biaya tinggi. Bagi kalangan pengusaha yang produknya terkena pajak tidak akan mau repot. Mereka akan membebankan tambahan biaya tersebut ke dalam harga produk yang dijualnya. Pada akhirnya, pajak kini menjadi komponen harga dalam sebuah produk dan jasa. Akibatnya semua beban pajak akan lari dan ditanggung rakyat.
Sayangnya penerimaan pajak yang sangat besar itu tak pernah jelas arahnya. Padahal pemerintah harusnya bisa memanfaatkan penerimaan pajak yang sangat besar itu untuk membayar utang dan menggerakkan perekonomian rakyat.
Yang terjadi justru penerimaan pajak yang sangat besar itu untuk memberikan stimulus pada pengusaha besar. Kasus paling hangat adalah ketika Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memberikan likuiditas Rp 6,7 trilyun untuk Bank Century. Bahkan yang membuat geger rakyat adalah ketika terungkap seorang pegawai pajak bernama Gayus bisa mengemplang dana pajak hingga Rp 28 milyar. Padahal banyak kasus penggelapan pajak yang tak pernah terungkap.
Terlihat bagaimana rasa ketidakadilan makin nyata. Di satu sisi pemerintah terus menggenjot penerimaan pajak, tapi penggunaan penerimaan negara itu justru untuk menstimulus pengusaha besar. Di sisi lain pemerintah justru memangkas anggaran subsidi untuk rakyat.
Dalam RAPBN 2010, pemerintah hanya mengalokasi anggaran subsidi pada 2010 sebesar Rp 144,4 trilyun. Jumlah itu lebih rendah dari subsidi APBN-P 2009 sebanyak Rp157,727 trilyun. Penurunan subsidi itu untuk pangan dari Rp 12,987 trilyun pada APBNP 2009 menjadi Rp 11,84 trilyun, dan subsidi pupuk turun dari Rp 18,43 trilyun (APBNP 2009) menjadi Rp 11,29 trilyun.
Peningkatan pendapatan negara dari pajak dan penghapusan berbagai subsidi merupakan dampak dari kebijakan ekonomi kapitalis yang meminimalisasikan peran negara dalam perekonomian. Akibatnya kesejahteraan rakyat diserahkan pada mekanisme pasar dan swasta. Pajak kini sebagai sumber utama pendapatan negara. Negeri kaya yang hidup dari pajak. [] Ijul’28

9 out of 10 based on 10 ratings. 9 user reviews.

Ekonomi Eropa Rontok

Kini Eropa bernasib sama dengan Amerika Seriakt. Bukti rapuhnya ekonomi kapitalisme?
Ketika Amerika Serikat dilanda krisis, banyak kalangan tak menyangka. Sebagai pemilik ekonomi terbesar di dunia dengan nilai GDP sekitar 13,7 trilyun dolar AS, ternyata negeri Paman Sam itu sangat rapuh. Penyebab krisis ekonomi AS adalah penumpukan utang hingga 8,98 trilyun dolar AS, pengurangan pajak korporasi, pembengkakan biaya perang Irak dan Afghanistan.
Bahkan yang paling krusial adalah Subprime Mortgage yakni, kerugian surat berharga properti. Kondisi itu kemudian membuat bangkrut Lehman Brothers, Merryl Lynch, Goldman Sachs, Northern Rock,UBS, Mitsubishi UF, dan yang lainnya.
Setelah hampir tiga tahun AS dilanda gonjang-ganjing ekonomi, kini giliran Uni Eropa yang merasakan pahitnya krisis ekonomi. Meski saat krisis AS, imbasnya sempat dirasakan negara-negara di Eropa. Di Eropa ketakutan terhadap krisis utang dan defisit, pertama kali muncul di Yunani, kemudian menjalar ke Irlandia, Portugal dan Spanyol. Cekaman ketakutan itu telah menimbulkan krisis kepercayaan di negara Uni Eropa lainnya, terutama Jerman.
Sinyal krisis yang makin kencang itu membuat negara-negara di luar Eropa pun mulai bereaksi. Terlihat bagaimana bursa saham di Asia anjlok. Begitu juga yang terjadi di Indonesia, di Bursa Efek Jakarta, investor yang khawatir terhadap krisis keuangan Eropa melakukan aksi jual saham secara besar-besaran. Hal ini membuat Indeks Harga Saham melorot.
Mantan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati memprediksi, krisis utang di Eropa akan menjadi ancaman ekonomi global, termasuk Indonesia pada tahun 2011. Krisis utang di sejumlah negara Eropa dikhawatirkan bisa menyebabkan krisis keuangan yang meluas.
Menurut Mulyani, negara seperti Portugal, Italia, Spanyol, Irlandia, dan Yunani berpotensi mengalami kondisi fiskal yang sangat berat. Apalagi rasio utang pemerintah jauh di atas tingkat maksimum yang disepakati yaitu 60 persen. Kondisi ini membuat jatuhnya kepercayaan kepada surat utang negara-negara tersebut dan menyeret perlemahan mata uang Euro.
“Ini menjadi ancaman dari sisi global akibat kebijakan fiskal yang sangat ekspansif dengan tingkat defisit anggaran yang sangat tinggi dan dalam waktu yang lama,” ujar Mulyani Indrawati.
Kehancuran Ekonomi Kapitalis
Krisis melanda AS dan Eropa menimbulkan berbagai prediksi bahwa kekuatan ekonomi mulai bergeser ke negara-negara Asia. Misalnya, laporan National Intelligence Council (NIC) berjudul ”Global Trends 2015” menyebutkan, krisis ekonomi AS tersebut menjadi sinyal pergeseran kekuatan yang sudah mulai terjadi. Pamor AS di bidang ekonomi dan militer kian memudar. Sebaliknya Asia akan menjadi sentra manufaktur dan sektor jasa lain.
Namun jika menelisik lebih jauh, maka krisis ekonomi yang menimpa negara-negara pengemban ideologi kapitalis menunjukkan sistem ekonomi kapitalis berada di tepi jurang yang dalam. Pertumbuhan ekonomi yang dikejar adalah pertumbuhan ekonomi semu. Azas ekonomi adalah pertambahan pendapatan nasional (national income). Artinya, sistem ekonomi kapitalisme memiliki satu tujuan yaitu meningkatkan kekayaan negara secara makro.
Lebih parahnya lagi, ketika menghadapi krisis upaya penyelamatan yang dilakukan tersebut ibarat ‘menjilat ludah sendiri’. Pemerintah AS dan Eropa yang semula menentang intervensi pemerintah dalam perekonomian, justru ramai-ramai melakukan intervensi.
Setidaknya ada tiga upaya penyelamatan. Pertama, menyuntikkan modal untuk menyehatkan kembali likuiditas bank dan lembaga keuangan. Kedua, negara mengintervensi pasar modal dengan membeli saham, obligasi dan surat berharga yang sebagian besar sudah kehilangan nilainya. Ketiga, menurunkan suku bunga agar kredit meningkat dan selanjutnya akan menggerakkan kegiatan usaha di sektor riil.
Aksi penyelamatan dan suntikan dana yang sangat besar itu, ternyata tak mampu menyelamatkan perekonomian negara-negara kapitalis. Upaya penyelamatan tak akan mampu memperbaiki keadaan, kecuali sekadar obat yang meringankan rasa sakit untuk sementara waktu.
Karena itu sudah waktunya sistem ekonomi alternatif yakni Islam diberlakukan. Berbeda dari sistem kapitalisme, sistem ekonomi Islam selalu menomorsatukan kebutuhan dan pemberdayaan masyarakat secara riil. Artinya dalam ekonomi Islam, bukan sekadar pertumbuhan ekonomi saja yang dikejar, tapi menfokuskan pada manusia dan pemenuhan kebutuhannya. Ijul’28
9 out of 10 based on 10 ratings. 9 user reviews.

Thursday, February 10

Pertumbuhan Ekonomi tanpa Utang & Eksploitasi

Pemerintah Indonesia telah menargetkan pertumbuhan ekonomi menjadi 7 persen hingga 2013 mendatang. Untuk mewujudkan target tersebut, pemerintah memetakan sejumlah peluang dan momentum, di antaranya adalah dengan meluncurkan rencana induk pembangunan yang terbagi menjadi enam koridor ekonomi. Koridor-koridor ini akan tersebar di beberapa wilayah di tanah air.
Menko Perekonomian Hatta Radjasa menjelaskan, Indonesia memiliki banyak peluang pada tahun 2011 ini untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, beberapa di antaranya adalah kepercayaan investor asing yang meningkat dan pemberdayaan sumber-sumber daya alam yang belum optimal.
Kompas (3/1) mencatat optimisme pemerintah meningkat berdasarkan data yang dikeluarkan Flitch. Lembaga pemeringkat itu menaikkan peringkat utang Indonesia menjadi BB+, satu tingkat di bawah investment grade. Lembaga pemeringkat yang lain, Standard & Poor, juga menaikkan peringkat surat utang luar negeri kita dari BB- menjadi BB, dengan outlook yang positif.
Sudah menjadi tradisi bahwa pemerintah selalu mengandalkan utang luar negeri untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Pemerintah dengan bangga menyatakan utang luar negeri menjadi modal dasar bagi pembangunan ekonomi nasional. Ini adalah seperti mata rantai yang tidak pernah ada habisnya. Dari era orde baru hingga reformasi, pemerintah kita terbelenggu oleh paradigma neokolonialisme dan neoliberalisme.

Runtuhnya Ekonomi Kapitalisme

Worldview atau Pandangan hidup seseorang menentukan perilaku dan tindakannya dalam kehidupan. Dalam bidang ekonomi, worldview ekonomi kapitalisme berbeda 180 derajat dengan ekonomi Islam. Perjalanan sejarah ekonomi kapitalisme dipenuhi dengan kegagalan-kegagalan teori.  Adam Smith melahirkan paham ekonomi liberal yang meyakini bahwa kebebasan dalam berkompetisi merupakan faktor pendukung dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, pasar akan diatur oleh tangan-tangan yang tidak terlihat (invisible hand).
Meski teori Laissez Faire Smith menguasai Eropa selama 150 tahun, paham kebebasan pasar akhirnya menemui ajalnya pada akhir 1929. The Great Depression yang terjadi pada saat itu membelalakkan mata ekonom kapitalis. Inflasi yang melanda Jerman dan sejumlah negara Eropa meningkatkan angka pengangguran.
Krisis ekonomi pada 1929 menggusur teori Laissez Faire dan melahirkan teori baru yang disampaikan John Maynard Keynes. Melalui bukunya yang berjudul, The General Theory of Employment Interest and Money, Keynes menguliti kelemahan-kelemahan teori Adam Smith. Menurutnya, negara harus turut campur secara langsung guna menyelamatkan keterpurukan ekonomi. Keynes mengatakan Intervensi pemerintah sangat diperlukan dalam kehidupan ekonomi sebagai langkah politis dalam mewujudkan stabilitas kegiatan ekonomi.

Ekonomi Islam VS Ekonomi Kapitalis

PENERAPAN SISTEM EKONOMI ISLAM - Syariah  DALAM PEMBERDAYAAN UMAT.
Islam adalah agama yang sempurna, mengatur seluruh dimensi kehidupan umat. Kesempurnaan Islam telah disebutkan di dalam Al-Qur'an:

"....pada hari ini telah Ku-sempurnakan bagi kamu agamamu dan Kusempurnakan bagi kamu nikmat-Ku dan Aku ridhoi Islam itu sebagai agama kamu"
(QS Al-Maidah:3)

SEBAGAI satu agama yang sempurna, Islam merupakan sistem hidup yang terbaik.Karenanya, segala hal yang ditawarkan Is­lam dalam mengatasi persoalan kehidupan adalah solusi terbaik. Sistem ekonomi adalah bagian terpenting dalam ilmu ekonomi yang menjadi dasar dan fondasi untuk mem-bangun sebuah cita-cita. Berdasarkan filsafat yang dikandung ilmu ekonomi, tujuan (cita-cita) yang ingin dicapai oleh ilmu ekonomi adalah kesejahteraan manusia. Maka, setiap individu, keluarga, masyarakat dan negara adalah komponan yang masuk dalam satu sistem ekonomi yang bergerak untuk menuju terwujudnya kesejahteraan manusia.

Evaluasi Pembatasan BBM Harus Dikaji Matang

Jakarta ( Berita ) :  Menko Perekonomian, Hatta Rajasa, mengatakan evaluasi kajian pembatasan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi harus dilakukan secara matang agar pelaksanaan pembatasan mulai April 2011 dapat berlangsung optimal.

“Kita tunggu laporan dari studi tambahan, saya katakan tidak ada pokoknya, tapi semua harus ada dasar asumsi ICP berapa, kesiapan begini, makanya kajiannya harus matang,” ujarnya seusai rapat koordinasi di Jakarta, Rabu [09/02].
Untuk itu, ia mengharapkan kajian evaluasi tersebut selesai pada Maret dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian saat ini dan situasi global. “Nanti ada satu lagi paparan di Maret, makanya kita liat lagi seperti apa. Dan itu kita harapkan selesai, tapi kalau seandainya minyak berfluktuasi lagi kita akan lihat,” ujar Hatta,
Apalagi, Hatta menegaskan pembatasan subsidi BBM ini diberlakukan agar masyarakat yang kurang mampu dapat mendapatkan manfaat yang berkeadilan. “Intinya subsidi itu tidak hanya fiskal, yang penting keadilan. Makanya kita harus lihat seberapa besar dampaknya,” ujarnya.

Inflasi 2011 Rendah Jika Februari-April Lunak

Jakarta ( Berita ) :  Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan memperkirakan inflasi selama 2011 akan terkendali dalam tingkat yang rendah jika inflasi selama tiga bulan berikutnya yaitu Februari-April dalam tingkatan yang rendah.

“Kalau laju inflasi Februari, Maret, April nanti lunak, barangkali masih ada harapan,” kata Rusman usai rapat koordinasi ketahanan pangan migguan di Kantor Menko Perekonomian Jakarta, Rabu [09/02].
Ia menyebutkan, laju inflasi tergolong lunak jika hanya mencapai sekitar 0,1 hingga 0,3 persen saja. Berdasar pengalaman selama ini, lanjut Rusman, tingkat inflasi pada Februari akan lebih rendah jika dibanding tingkat inflasi pada Januari.

Pembentukan FTA Indonesia-Chile Dikabarkan Tertunda

Jakarta ( Berita ) :  Kerja sama pembentukan Kesepakatan Perdagangan Bebas (FTA) antara Indonesia-Chile tertunda karena Indonesia masih perlu melakukan konsolidasi dengan seluruh pelaku bisnis dalam negeri.

Menurut laporan Kedutaan Besar RI untuk Chile, yang diterima Rabu [09/02], “Rencana pembahasan struktur kerja FTA untuk sementara ditunda dan menunggu perkembangan di dalam negeri.”
Sebelumnya, pada 2007 telah dibentuk satu Kelompok Penelitian Gabungan (JSG) Mengenai Kesempatan FTA Bilateral Indonesia-Chile yang terdiri dari pemerintah, akademisi, dan pengusaha.
Menurut laporan dari Kedubes RI di Chile, JSG tersebut telah melakukan pertemuan sebanyak tiga kali dan menghasilkan kesimpulan bahwa FTA bilateral negara akan menguntungkan keduanya dalam bentuk peningkatan perdagangan bilateral yang tidak hanya bersifat “traded goods”, tetapi juga yang masih “non traded goods”.

Sektor Perkebunan Bali Raup Devisa 887.631 Dolar

Denpasar ( Berita ) :  Kopi dan vanili, dua komoditi hasil perkebunan Bali mampu meraup devisa sebesar 887.631 dolar AS selama 2010, turun 7,71 persen dibanding tahun sebelumnya yang tercatat 961.739 dolar.

“Perolehan devisa tersebut selama kurun waktu lima tahun terakhir turun rata-rata 9,95 persen,” kata Kabag Publikasi dan Dokumentasi pada Biro Humas dan Protokol Pemprov Bali I Ketut Teneng di Denpasar, Rabu [09/02].
Ia mengatakan, ekspor hasil perkebunan Bali tahun 2006 mencapai 1,52 juta dolar, meningkat 18,35 persen menjadi 1,90 juta dolar AS pada tahun 2007, namun turun lagi 64,6 persen menjadi  640.664 dolar pada tahun 2008.
Mata dagangan kopi yang diproduksi secara ramah lingkungan itu mampu menembus pasaran ekspor dengan menghasilkan devisa sebesar  126,534 dolar selama 2010, turun 19, 58 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai 157,937 dolar.
Ketut Teneng menjelaskan, mata dagangan vanili mampu menghasilkan 760.353 dolar selama 2010, juga menurun 5,47 persen dari tahun sebelumnya tercatat 804.341 dolar.
“Menurunnya perolehan nilai ekspor dari mata dangan kopi dan vanili erat kaitannya dengan persediaan mata dagangan yang sangat dipengaruhi faktor iklim, di samping sifat tanaman itu mengalami panen raya setiap dua tahun sekali,” ujar Ketut Teneng.
Kopi dalam bentuk biji beras maupun setelah diolah berhasil menembus pasaran Jepang, Perancis, dan beberapa negara di kawasan Eropa.
Bali mampu menghasilkan kopi sebanyak 13.800 ton dalam 2009 dan produksi itu diperkirakan menurun dalam 2010 akibat pengaruh musim hujan yang terjadi hampir sepanjang tahun.
Ketut Teneng menambahkan, Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Perkebunan setempat memprogramkan pengembangan tanaman kopi seluas 1.020 hektare dalam tahun 2011, dengan dukungan dana dari pemerintah pusat dan APBD Bali.

Sunday, February 6

11,4 % Penduduk Singapura adalah Miliuner

Siapa yang tidak ingin menjadi miliuner? Ide cemerlang, kebulatan tekad dan sedikit keberuntungan bakal menghantarkan anda kepada mimpi itu.


Namun, faktor lingkungan juga tak kalah pentingnya.  The Boston Consulting Group’s Global Wealth 2010 Report memberi beberapa rekomendasi tempat di dunia bagi mereka yang mimpi jadi miliuner.

Laporan tersebut menyebutkan, Amerika Serikat memiliki jumlah miliuner terbanyak di dunia. Negara adidaya itu memimpin dengan 4,7 juta miliuner meninggalkan Jepang yang punya 1,2 juta miliuner.

Advertisements